Memilih Bahagia

Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai pada kesempatan untuk merasakan asam manisnya tingkat akhir. Skripsi itu menarik ya, buat saya skripsi bukan bukti bahwa kita ada di tingkat akhir, tapi skripsi adalah proses penyadaran alami terhadap diri, "sudah ngapain aja selama menjadi mahasiswa?"

Saya masih ingat betul bagaimana tahun 2017 yang telah saya lalui. Bukan hal mudah buat saya untuk memutuskan berhenti kuliah yang sudah sampai di smester 4 jurusan Menejemen. Bagaimana saya melalui semua dengan banyak pertimbangan, bahkan sudah melalui berbagai diskusi panjang. Bagi saya itu keputusan besar, karena restu orangtua juga belum saya dapat saat itu. Namun idealisme yang kala itu hadir dalam diri saya, sebuah keyakinan bahwa menjadi sarjana bukan agar diakui manusia lain, namun nilai yang saya miliki harus bisa merepresentasikannya.

Masa-masa itu masih menjadi bekas luka tersendiri bagi saya, sebab yang kecewa bukan saya atau orangtua namun keluarga besar, saya faham bahwa saya terlalu banyak mau, mengejar idealisme yang saya bangun. Meski saat itu saya bekerja dan mampu membiayai perkuliahan sendiri namun saya cukup faham bahwa perspektif saya tentang kebahagian jelas berbeda dengan oranglain termasuk keluarga. Saya mencoba keluar dari ketakutan semua hal yang hadir, sebab saya tahu bahwa kebahagiaan saya tidak membutuhkan persetujuan oranglain.

Maka saat saya melalui masa Skripsi ini, disaat oranglain pikir "buru-buru amat demi selembar kertas", mereka tidak mengetahui apa yang sudah saya lalui, sehingga penting bagi saya menyelesaikan apa yang sudah saya mulai sebisa mungkin tepat waktu. Saya tidak menjadikan gelar sebagai tuhan karena saya juga tidak menghamba padanya. Saya sudah bekerja, maka bukan ijazah yang saat ini menjadi hal terpenting. Saya bahkan berfikir, bahwa jika saya mau berusaha mungkin saya mampu membangun karir tanpa gelar sarjana, namun dengan sisa usia yang saya punya saya ingin melakukan hal lain yang belum pernah saya lakukan, saya ingin mendapatkan kesenangan dengan melakukannya tanpa tanggung jawab lain sebab semuanya telah selesai.

Saya cukup percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing, dalam hal apapun. dan standar kesuksesan atau bahagia sekalipun, kita memiliki definisi masing-masing. Dibanding menjadi sukses saya ingin menjadi bernilai, dan dibanding menjadi sukses saya lebih ingin bahagia. Begitu saja. Maka sejujurnya saya tidak peduli bagaimana orang melihat perjalanan saya, sebab yang dilihat oranglain adalah gambaran besarnya saja, cangkangnya saja, saya yang bertanggung jawab hingga akhir sebab saya adalah cinta pertama dan terakhir bagi saya sendiri. Maka sudah seharusnya saya mendengarkan diri sendiri daripada oranglain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinter atau Open Minded?

Sebuah Catatan, Maret 2022