Postingan

Dalam Sepaket Luruh

Apakah tidak suka update tentang banyak hal di media sosial itu aneh dan konservatif ya? seolah paling kudet dan tidak cocok bergaul dengan anak masa kini.  Dianggap sok' misterius, ingin selalu dicari dan haus perhatian. Hahahaha, ini lucu sih.  Begini, bagi sebagian orang, hidup itu bukan cuma perkara dijalani saja. Ada orang-orang yang nafasnya begitu berat, pahamnya sedang diguncang, pikirannya sedang riuh, dan bisa jadi hidupnya berisikan banyak patahan yang tak nampak. Bagaimana mungkin ia harus selalu sharing kepada orang banyak tentang kepiluannya. Orang-orang seperti itu ingin menghindari kenyataan sebentar saja dengan berlari ke sosial media sekedar bersenang-senang menikmati tontonan yang oranglain sajikan, tidak ingin lelah dua kali, makanya meminimalisir pilu. Percayalah, di dunia ini bahkan ada yang merasa cukup dengan dirinya sendiri, ketika merasa bahagia pun ia merasa cukup untuk diketahui oleh dirinya sendiri, saja. Kamu bisa menemukan orang dengan jenis ini,...

Sebuah Catatan, Maret 2022

Benar, tidak ada yang mudah, tidak ada yang baik-baik saja. Semua sungguh butuh pengorbanan, waktu dan rasa sakit.  Aku ternyata sungguh selemah ini, sungguh se rapuh ini dan aku setidak berdaya ini.  Aku menemukan diriku berserakan bersama kepingan perasaanku sendiri. Aku mendapati diriku terpuruk dan termenung dipojok ruang yang tak pernah kusinggahi. Aku menemukan diriku dalam kesedihan yang aku sendiri tak mampu memahami..  Sungguh tak semudah itu untuk bangkit, untuk berani beda, apalagi untuk menjadi hebat. Aku bahkan menjadi manusia yang paling lemah saat ini. Tiba-tiba aku rindu kesendirian, aku merindukan waktu yang bisa kunikmati seorang diri, aku cukup lelah bertemu banyak orang dan situasi.  Sukabumi, 02 Maret 2022 *** Pahamku terbatas, lalu disitulah diamku jadi begitu berharga. Perdebatan karena kebodohan diri hanya memperpanjang soal dan memperjelas ketidak pahaman. Maka betul, memerhatikan lebih detail lagi, membaca situasi dan mengatur gerak bisa jad...

Selembar Tentang Penyiaran

Banyak orang bertanya: "3 jam siaran gak capek apa? Ngomong terus" Hahaha, jadi gini pemirsa.. 3 jam itu, 20 % ngomong, 50% muterin lagu dan iklan, 10% makan dan main medsos, 20% nyanyi-nyanyi. Kira-kira capek gak kalo begitu? Hihi dan saya sudah melakukannya sejak tahun 2018. *** 4 tahun bukan waktu yang sebentar, saya punya banyak kisah, cerita, value serta hal-hal baik yang beriringan selama waktu tersebut.  Duduk di kursi, berhadapan dengan mic, mixer dan komputer membuat saya menjelajahi manusia lain, cerita mereka, pengalaman mereka, sehingga mendapat insight baru tentang sesuatu. Pengalaman mewawancarai oranglain yang berasal dari profesi berbeda, berbicara tentang musik, bisnis, kesehatan, strategi, harapan, dan bahkan obrolan pemanis seperti 'apa kabar? atau sudah pernah datang ke Purwakarta sebelumnya? ' menjadi begitu mengesankan dan mengantarkan pada perbincangan lainnya. Selama 4 tahun ini juga tidak lepas dari rasa canggung dan khawatir ketika harus mene...

Last Day in 2021

Hari ini, seseorang yang sering kutemui di minimarket dekat rumah mengucapkan salam perpisahan, dia bilang ini adalah hari terakhirnya. Wajahnya sumringah, kemudian mengatakan bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik menurutnya, entah apa namun aku turut mengamini untuk kebahagiaannya.  Sebetulnya dia adalah orang asing, namun diantara kasir yang lain, orang ini yang seringkali menyambut pelanggan dengan sapaan seolah kami memang teman, begitupun kepada yang lainnya. Sempat beberapa kali memerhatikan caranya memperlakukan orang lain, kurasa dia cukup handal dalam menarik perhatian, dan yakin sekali bahwa kepergiannya akan dirasakan oleh banyak pelanggan disana.  Dia mengucapkan salam perpisahan diakhiri dengan permintaan maaf, seolah kami benar-benar dekat. Namun tiba-tiba terlintas dibenak, seharusnya aku juga turut mengucapkan maaf karena aku bahkan tidak menyimpan nomornya sebab aku selalu berfikir bahwa pertemuan ini akan berakhir seperti biasa dan menjadi...

Setengahnya.

Sudah setengah tahun berada di tahun 2021, apresiasi untuk diri sendiri yang sudah tegap bertahan, terimakasih. Saya mungkin tidak memiliki banyak hal untuk dipersembahkan kepada diri sendiri, namun saya ingin memberikan kesungguhan pada semua kerja keras, untuk penjagaan terhadap tubuh, untuk mencintai bagaimanapun adanya saya, untuk menyayangi setiap detail yang sedang saya lalui. Saya ingin memberikan kepercayaan terhadap diri sendiri agar mampu memberanikan diri menjalani hari ini, bukan hari esok apalagi hari kemarin. Saya menyerahkan sepenuhnya hari esok pada kuasa Tuhan untuk mengindahkannya, saya menyerahkan hari kemarin pada Tuhan dan semesta untuk memberi penilaian atau penghukuman atasnya. Namun saya akan berusaha senang, tenang dan sungguh-sungguh untuk hari ini. Setengah tahun yang luar biasa sudah saya lalui, tidak terlalu mengecewakan sebab saya belajar banyak hal. Saya ingin berterimakasih bahwa saya tetap memilih untuk berupaya lebih. Saya ingin berjuang lagi, dan mung...

Memilih Bahagia

Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai pada kesempatan untuk merasakan asam manisnya tingkat akhir. Skripsi itu menarik ya, buat saya skripsi bukan bukti bahwa kita ada di tingkat akhir, tapi skripsi adalah proses penyadaran alami terhadap diri, " sudah ngapain aja selama menjadi mahasiswa ?" Saya masih ingat betul bagaimana tahun 2017 yang telah saya lalui. Bukan hal mudah buat saya untuk memutuskan berhenti kuliah yang sudah sampai di smester 4 jurusan Menejemen. Bagaimana saya melalui semua dengan banyak pertimbangan, bahkan sudah melalui berbagai diskusi panjang. Bagi saya itu keputusan besar, karena restu orangtua juga belum saya dapat saat itu. Namun idealisme yang kala itu hadir dalam diri saya, sebuah keyakinan bahwa menjadi sarjana bukan agar diakui manusia lain, namun nilai yang saya miliki harus bisa merepresentasikannya. Masa-masa itu masih menjadi bekas luka tersendiri bagi saya, sebab yang kecewa bukan saya atau orangtua namun keluarga besar, saya faham bah...

Anti - First Impression

Bertemu orang baru tak melulu berarti bertemu dengan situasi yang baru. Terkadang semuanya merupakan hal biasa yang barangkali pernah ditemui dimasa yang lalu pada orang yang lebih dulu hadir.  Kita tidak pernah bisa menyimpulkan sesuatu pada pertemuan pertama. Kita tidak bisa mengenali sesuatu atau seseorang pada perbincangan pertama, semua tak pernah ada jaminan terkait pemahaman terhadap sesuatu. Mengomentari seseorang setelah pertemuan pertama adalah seperti sebuah penghukuman bagi diri sendiri yang terlalu ribet memikirkan oranglain. Feedback yang kita dapat, prasangka yang kita punya, dan opini kita tidak otomatis menjadi bukti bahwa seperti itulah adanya. Bukankah manusia adalah makhluk yang hidup dengan misterinya masing-masing? lantas bagaimana bisa kita mati-matian mengadilinya pada pertemuan pertama? Sebetulnya tak ada yang luar biasa, semua hal bisa biasa-biasa saja. Namun entah mengapa, kita masih bisa merasa kesal, kecewa dan terkesan tak terima dengan beberapa hal y...