Sebuah Catatan, Maret 2022

Benar, tidak ada yang mudah, tidak ada yang baik-baik saja. Semua sungguh butuh pengorbanan, waktu dan rasa sakit. 

Aku ternyata sungguh selemah ini, sungguh se rapuh ini dan aku setidak berdaya ini. 

Aku menemukan diriku berserakan bersama kepingan perasaanku sendiri. Aku mendapati diriku terpuruk dan termenung dipojok ruang yang tak pernah kusinggahi. Aku menemukan diriku dalam kesedihan yang aku sendiri tak mampu memahami.. 

Sungguh tak semudah itu untuk bangkit, untuk berani beda, apalagi untuk menjadi hebat. Aku bahkan menjadi manusia yang paling lemah saat ini. Tiba-tiba aku rindu kesendirian, aku merindukan waktu yang bisa kunikmati seorang diri, aku cukup lelah bertemu banyak orang dan situasi. 

Sukabumi, 02 Maret 2022


***

Pahamku terbatas, lalu disitulah diamku jadi begitu berharga. Perdebatan karena kebodohan diri hanya memperpanjang soal dan memperjelas ketidak pahaman. Maka betul, memerhatikan lebih detail lagi, membaca situasi dan mengatur gerak bisa jadi solusi. Jika memungkinkan, lebih baik bertanya saja, lalu melihat situasi selanjutnya. Jika sabar sudah tidak bisa menolong, lebih baik ditinggal saja dengan santun, sepertinya perdebatan tidak akan berujung pada Kemengertian. 


Sukabumi, 30 Maret 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinter atau Open Minded?

Memilih Bahagia