Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

Memilih Bahagia

Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai pada kesempatan untuk merasakan asam manisnya tingkat akhir. Skripsi itu menarik ya, buat saya skripsi bukan bukti bahwa kita ada di tingkat akhir, tapi skripsi adalah proses penyadaran alami terhadap diri, " sudah ngapain aja selama menjadi mahasiswa ?" Saya masih ingat betul bagaimana tahun 2017 yang telah saya lalui. Bukan hal mudah buat saya untuk memutuskan berhenti kuliah yang sudah sampai di smester 4 jurusan Menejemen. Bagaimana saya melalui semua dengan banyak pertimbangan, bahkan sudah melalui berbagai diskusi panjang. Bagi saya itu keputusan besar, karena restu orangtua juga belum saya dapat saat itu. Namun idealisme yang kala itu hadir dalam diri saya, sebuah keyakinan bahwa menjadi sarjana bukan agar diakui manusia lain, namun nilai yang saya miliki harus bisa merepresentasikannya. Masa-masa itu masih menjadi bekas luka tersendiri bagi saya, sebab yang kecewa bukan saya atau orangtua namun keluarga besar, saya faham bah...

Anti - First Impression

Bertemu orang baru tak melulu berarti bertemu dengan situasi yang baru. Terkadang semuanya merupakan hal biasa yang barangkali pernah ditemui dimasa yang lalu pada orang yang lebih dulu hadir.  Kita tidak pernah bisa menyimpulkan sesuatu pada pertemuan pertama. Kita tidak bisa mengenali sesuatu atau seseorang pada perbincangan pertama, semua tak pernah ada jaminan terkait pemahaman terhadap sesuatu. Mengomentari seseorang setelah pertemuan pertama adalah seperti sebuah penghukuman bagi diri sendiri yang terlalu ribet memikirkan oranglain. Feedback yang kita dapat, prasangka yang kita punya, dan opini kita tidak otomatis menjadi bukti bahwa seperti itulah adanya. Bukankah manusia adalah makhluk yang hidup dengan misterinya masing-masing? lantas bagaimana bisa kita mati-matian mengadilinya pada pertemuan pertama? Sebetulnya tak ada yang luar biasa, semua hal bisa biasa-biasa saja. Namun entah mengapa, kita masih bisa merasa kesal, kecewa dan terkesan tak terima dengan beberapa hal y...

Pinter atau Open Minded?

Beberapa waktu lalu temanku bilang: " gue tuh suka banget sama cowok pinter, enak aja diajak ngobrol, selalu nyambung sampe waktu tuh gak kerasa. " Saya dulu berfikir begitu juga. Tapi, semua terpatahkan dengan sebuah perjalanan yang mengantarkan saya pada pemahaman bahwa pinter doang gak cukup kalau gak cakap, hehe. Yang open minded lebih menarik gak sih ? Karena dari banyak kasus, ada yang pinter tapi tidak bisa terbuka dengan pendapat orang lain, kebenaran jadi miliknya sendiri, dan yang terparah adalah suka menyalahkan orang lain. Wkwkk.  Tetapi, ada yang pengetahuannya sederhana saja, bukan gak tau-tau banget, pinter-pinter banget juga enggak, ya dia terbuka terhadap pemikiran orang lain dan menerima nya. Kebenaran dilihat dari sudut pandang masing-masing. Yang begini yang enak, ngobrol apa aja hayu, nyambung. Dan gak ada pikiran menyalahkan kita dengan statemen: sok  bgt sih ngomongin ( misal ) politik, sosial atau yang lainnya.  Tapi ya beruntung kalau ketemu yang ...

Manusia lain pernah?

Saya sangat menyadari semua perjalanan yang sudah saya lalui hingga detik ini, hingga saya berbaring sambil merangkai tulisan ini menjelang tidur saya. Selepas hujan, setelah menonton drama korea yang sudah saya tunggu sejak akhir tahun 2020 lalu, setelah membaca beberapa lembar buku yang tengah saya baca bulan ini. Entah mengapa, ada masa disaat saya sedang melalui suatu kondisi yang saya rasa cukup berat, sisi lain dari diri saya selalu mengatakan bahwa apa yang saya hadapi itu tak berarti apa-apa, gak besar-besar amat. " Kok respon saya rasanya terlalu lebay. " Orang-orang pernah gak sih kaya gitu?  Setiap kali saya merengek tidak punya uang, dalam hati saya bilang " gausah manja, lu udah foya-foya tepat pas hari gajian " Setiap kali saya merasakan mules yang berulang, saya bilang " kamu sudah berjanji akan jaga makan tapi kamu yang melanggar nya " Setiap kali saya tidak berhasil dalam suatu target, saya bilang " nikmati hasil leha-leha mu " S...

Keresahan di Bulan Mei 2021

Hari ini media ramai sekali, pemberitaan terakhir yang berseliweran di media sosial berkaitan dengan kekerasan seksual yang dialami oleh para perempuan dengan rata-rata usia di bawah umur. Sedih sekali saat membacanya, bahkan sebuah video kekerasan pada anak kecil yang tengah ramai hari ini. Saya tidak bisa memberikan toleran pada statement - karena laki-laki memiliki nafsu yang lebih besar dibanding perempuan, juga dengan statemen bahwa perempuan lah yang mengundang syahwat laki-laki dengan pakaiannya-, sedangkan pada realitanya perempuan dengan baju tertutup, dengan pakaian longgar, bahkan berada di tempat ibadah pula, tidak terhindarkan. Jika memang benar laki-laki memiliki hawa nafsu yang lebih besar dibanding perempuan, apakah sebegitu sulitnya menahan nafsunya? Apakah sebodoh itu? Hingga berprilaku layaknya hewan. Mengherankan jika perempuan selalu menjadi korban sekaligus dianggap penyebab dari kejadian memalukan ini.  Kita melihat perilaku ayam, kucing, dan hewan lainnya, j...

Rutinitas.

Saya tidak bisa menerjemahkan perasaan saya sendiri, ada ketakutan, kekhawatiran, perasaan marah dan bersalah yang campur aduk tanpa saya fahami apa penyebabnya. Meski saya tahu, kemungkinan besar saya memang tak ingin mengakuinya dan berusaha untuk mangkir darinya.  Saya tahu betapa lemahnya saya, saya tak berdaya oleh apa yang saya rasakan sendiri. Dari semua pekerjaan dan kegiatan, cara kerja perasaan dan fikiran adalah hal yang paling tak bisa saya fahami. Saya benar-benar tak mengenali diri saya sendiri, saya sebodoh itu ternyata. Dan baru sadar, hehe. Kata orang kita butuh teman bercerita untuk meluapkan semuanya. Perasaan-perasaan itu akan lenyap dengan sejuta kosakata yang keluar dari mulut. Namun nyatanya, saya membutuhkan lebih dari itu, lebih dari sekedar teman bercerita. Tapi saya tidak tahu saya butuh apa dan bagaimana. Saya bodoh betulan.  Lelah rasanya, mengulang perasaan yang sama, berulang-ulang dan berakhir lalu ti...

Yang Terkunci di Sini.

Saya tidak ingin menerjemahkan kesepian karena kesendirian, begitupun sebaliknya.  Saya tidak menolak untuk berbagi dengan manusia lain, tapi setelah mendewasa akhirnya saya faham bahwa saya tidak sibuk sendiran, saya tidak sedih sendirian, saya tidak sedang menderita sendirian. Dunia juga berputar untuk manusia lain. Maka saya lebih senang mengurusi diri sendiri daripada sibuk berbagi. Saya ingin mencoba menafsirkan setiap lelah kedalam perjuangan dan ingin menerjemahkan setiap perjuangan dalam proses mensyukuri nikmat Allah atas waktu dan usia yang saya dapat, namun terkadang saya gagal dalam bersyukur, tidak mahir dalam berterima kasih.  Kekecewaan dapat membuat saya marah, rasa sakit membuat saya menangis, dan menguburnya sendirian membuat saya tertekan. Saya tahu betapa lemahnya saya. Ada banyak marah yang diredam, tangis yang tertahan, juga harap dan ingin yang tak jua terwujud. Saya lemah dalam memahami diri saya sendiri, saya buruk dalam merasa cukup, dan sek...

Pernah Tolol.

Ada masa dimana saya menyerahkan kepercayaan saya pada orang lain dengan alasan selama ada laki-laki kenapa harus perempuan yang memimpin -- dalam konteks apapun. Ini adalah hal konyol yang pernah saya yakini. Mengapa tidak? Saya seolah tidak menaruh kepercayaan pada banyak perempuan dengan kualitas kepemimpinan yang membangun, saya seolah menghianati banyak perempuan yang bergelut di bidangnya masing-masing, dan seolah saya menyingkirkan perempuan pada banyak kesempatan yang menghampiri di semua lini kehidupan. Pelan sekali, namun nyata. Sebuah kesempatan yang saya ambil dan menukarnya dengan apa yang orang yakini sebagai kebahagiaan saya saat itu, akhirnya pikiran terbuka, kekonyolan mulai memudar dan berganti dengan banyak hal baru.  Berawal dari keresahan yang satu dan keresahan lain yang kemudian menggunung, akhirnya bumi turut mengamini dan menarik saya pada banyak pertemuan dengan orang-orang diluar ekspektasi, dengan corak berfikir yang berbeda dari lingkungan saya sebelumn...

Tentang Sudut Pandang.

Yang mengherankan dari berbicara tentang sudut pandang, opini atau sekedar jawaban kepada orang-orang yang tak terbuka pikirannya adalah: kita dituduh menggurui, manusia paling sok tau, merasa benar dan tukang ngotot. Terlebih jika terjadi pada perempuan, dia akan menyandang gelar " perempuan menyebalkan, tidak cocok jadi pasangan " --- hiyaaaaat  ***** Wahai para perempuan, kamu memang tidak cocok untuk laki-laki yang membuatmu sempit dalam berfikir, sulit untuk maju sebab tidak memiliki pemikiran terbuka. Dunia ini semakin maju, perkembangannya tak bisa ditebak, cepat dan diluar kendali. Jangan biarkan ruang-ruang berfikir dan menganalisa hilang hanya karena statusmu sudah jadi milik orang. Jangan biarkan kita dikurung oleh kebenaran turun temurun yang merugikan. Jangan sampai kita di dikte oleh dogma agama tanpa menganalisanya.  Organ paling berharga yang dimiliki manusia adalah otaknya, hatinya. Pintar itu perlu. Namun bukan semata pintar akademisi, karena kehidupan tak m...