Manusia lain pernah?

Saya sangat menyadari semua perjalanan yang sudah saya lalui hingga detik ini, hingga saya berbaring sambil merangkai tulisan ini menjelang tidur saya. Selepas hujan, setelah menonton drama korea yang sudah saya tunggu sejak akhir tahun 2020 lalu, setelah membaca beberapa lembar buku yang tengah saya baca bulan ini.

Entah mengapa, ada masa disaat saya sedang melalui suatu kondisi yang saya rasa cukup berat, sisi lain dari diri saya selalu mengatakan bahwa apa yang saya hadapi itu tak berarti apa-apa, gak besar-besar amat. "Kok respon saya rasanya terlalu lebay." Orang-orang pernah gak sih kaya gitu? 

Setiap kali saya merengek tidak punya uang, dalam hati saya bilang "gausah manja, lu udah foya-foya tepat pas hari gajian" Setiap kali saya merasakan mules yang berulang, saya bilang "kamu sudah berjanji akan jaga makan tapi kamu yang melanggar nya" Setiap kali saya tidak berhasil dalam suatu target, saya bilang "nikmati hasil leha-leha mu" Setiap kali saya sedih kangen keluarga, saya bilang "selama dirumah kamu selalu sibuk dengan tidur dan hapemu" Dan masih banyak lagi ;(

Maka sebetulnya, perasaan kalut, sedih dan putus asa itu diciptakan oleh saya sendiri, hasil dari rangkaian sikap dan perilaku saya, maka seharusnya saya sudah siap menanggung apapun setelahnya.

Dan sungguh, baguslah jika saya masih merasa bahwa persoalan hidup yang saya lalui tidak sesulit itu, ya memang saya nya aja yang terlalu lebay dalam merespon.

Sadarlah, yuk geser paradigma ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinter atau Open Minded?

Memilih Bahagia

Sebuah Catatan, Maret 2022