Yang Terkunci di Sini.
Saya tidak ingin menerjemahkan kesepian karena kesendirian, begitupun sebaliknya.
Saya tidak menolak untuk berbagi dengan manusia lain, tapi setelah mendewasa akhirnya saya faham bahwa saya tidak sibuk sendiran, saya tidak sedih sendirian, saya tidak sedang menderita sendirian. Dunia juga berputar untuk manusia lain. Maka saya lebih senang mengurusi diri sendiri daripada sibuk berbagi.
Saya ingin mencoba menafsirkan setiap lelah kedalam perjuangan dan ingin menerjemahkan setiap perjuangan dalam proses mensyukuri nikmat Allah atas waktu dan usia yang saya dapat, namun terkadang saya gagal dalam bersyukur, tidak mahir dalam berterima kasih.
Kekecewaan dapat membuat saya marah, rasa sakit membuat saya menangis, dan menguburnya sendirian membuat saya tertekan. Saya tahu betapa lemahnya saya. Ada banyak marah yang diredam, tangis yang tertahan, juga harap dan ingin yang tak jua terwujud. Saya lemah dalam memahami diri saya sendiri, saya buruk dalam merasa cukup, dan sekali lagi.. saya jelek dalam bersyukur.
Ada banyak sesal yang tak sempat saya akui, ada banyak kata maaf yang tak sempat terungkap, juga perasaan sayang yang tak sempat tersampaikan. Yang dapat saya lakukan adalah menyibukkan diri dalam beberapa perkerjaan yang orang kira sebagai bentuk kesenangan. Saya kehilangan cara untuk memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk berupaya senang dan bahagia. Kasian ya, hehe.
Komentar
Posting Komentar