Last Day in 2021

Hari ini, seseorang yang sering kutemui di minimarket dekat rumah mengucapkan salam perpisahan, dia bilang ini adalah hari terakhirnya. Wajahnya sumringah, kemudian mengatakan bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik menurutnya, entah apa namun aku turut mengamini untuk kebahagiaannya. 

Sebetulnya dia adalah orang asing, namun diantara kasir yang lain, orang ini yang seringkali menyambut pelanggan dengan sapaan seolah kami memang teman, begitupun kepada yang lainnya. Sempat beberapa kali memerhatikan caranya memperlakukan orang lain, kurasa dia cukup handal dalam menarik perhatian, dan yakin sekali bahwa kepergiannya akan dirasakan oleh banyak pelanggan disana. 

Dia mengucapkan salam perpisahan diakhiri dengan permintaan maaf, seolah kami benar-benar dekat. Namun tiba-tiba terlintas dibenak, seharusnya aku juga turut mengucapkan maaf karena aku bahkan tidak menyimpan nomornya sebab aku selalu berfikir bahwa pertemuan ini akan berakhir seperti biasa dan menjadi asing kembali, begitulah aku kepada setiap orang yang mampir dalam hidupku. 

****

Pertemuan, perpisahan dan langkah terakhir adalah alarm untuk perjalanan selanjutnya, aku dan semua orang akan mengalaminya. Kita tak pernah tahu dengan pasti langkah mana yang paling benar, firasat seperti apa yang paling benar, dan... Semuanya hanya tentang waktu beserta misterinya, bukankah kita hanya perlu ambil peran lalu melakukannya semampu kita? Lalu membiarkan Allah mengurus sisanya. 

Pada perbincangan sore tadi aku hanya mengatakan, bahwa kebetulan ini juga tahun terakhir ku di kota ini, meski dalam hati, aku masih tidak tahu apakah langkah ini benar atau tidak. Aku menyemangati nya sebagai salam perpisahan kami, semoga sehat dan sukses selalu, teh.


Purwakarta, 30 Desember 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinter atau Open Minded?

Memilih Bahagia

Sebuah Catatan, Maret 2022